Jumat, Mei 25, 2012
   
Text Size

Tips Mengasuh Anak dengan Cara Bijaksana

Kini, di lingkungan kita banyak orangtua yang sudah mulai meninggalkan gaya mendidik anak dengan cara kekerasan seperti dulu. Mereka sudah semakin memahami bahwa mendidik dengan cara memukul, menghukum, dan mempermalukan anak tidak lagi dapat menyelesaikan masalah. Mengasuh dengan cara keras hanya akan memicu anak untuk bersikap memberontak. Sikap anak seperti itu tentu akan membuat tugas mengasuh anak bukan menjadi mudah. Tetapi sebaliknya, justru akan lebih menghabiskan waktu, lebih sulit, dan menyakitkan.

Namun sayang, di balik semua perubahan di atas ada masalah lain telah terjadi. Banyak orangtua yang meninggalkan gaya keras mendidik anak, tetapi selanjutnya mereka tidak tahu cara lain yang lebih efektif dan baik untuk mengasuh dan mendidik anak. Akhirnya, orangtua seperti ini mengasuh anak dengan cara lembut. Ketika anak berbuat salah, orangtua seperti ini akan lebih memilih untuk membiarkan anak melakukan kesalahan dan menghidarinya supaya mereka tidak lagi melakukan tindakan kekerasan terhadapnya.

Ketika orangtua tidak lagi menghukum anak atas kesalahan yang telah ia lakukan, sesungguhnya orangtua telah memberikan sinyal kepada anak bahwa mereka tidak berdaya. Orangtua seperti ini cenderung menyerah terhadap sikap negatif anak, seperti menantang, mengamuk, dan manja. Apabila orangtua terus menerus mengasuh anak dengan cara seperti itu, anak secara perlahan akan menjadi orang yang selalu banyak menuntut, tidak hormat, dan selalu menentang orangtuanya.

Oleh karena itu, mengasuh anak sebaiknya tidak dengan cara terlalu lembut dan juga tidak terlalu keras. Apabila sesekali anak melakukan tindakan salah, didiklah ia namun tidak dengan cara kekerasan dan juga tidak dengan cara terlalu lembut. Misalnya, dengan cara memberikan konsekuensi (mengurangi jam main, uang jajan, atau menghilangkan untuk sementara acara jalan-jalan). Dalam hal ini, orangtua tidak membiarkan anak dapat melakukan tindakan salah begitu saja dan tidak juga menghukum anak dengan kekerasan (memukul). Orangtua tetap mendidik anak tetapi dengan cara yang lebih baik.

Seandainya saja anak menentang pada apa yang dikatakan orangtua, ada baiknya orangtua tidak selalu menghukumnya (memarahi, membentak, memukul, dan melecehkan). Sebab, memberikan kesempatan kepadanya untuk mengekspresikan perasaan tentang apa yang ia inginkan dapat membuat anak semakin mahir dalam melakukan negosiasi. Hal yang paling penting perlu orangtua tegaskan kepada anak adalah boleh saja ia menentang, tetapi ayah dan ibu tetap sebagai bosnya. Anak tetap harus bersikap hormat kepada orangtua (yer).

Orangtua yang mampu menangani sikap menentang anak dengan sikap tenang dan bijaksana. Berarti telah mengajarkan anak bagaimana cara menghadapi sikap menentang yang mungkin akan ia alami dalam kehidupannya kelak. Bila suatu saat ia dihadapkan dengan orang yang sulit diajak bekerja sama. Ia akan tahu bagaimana menghadapi situasi itu tanpa menyerah secara membuta atau menuntut orang lain menyerah

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 219 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
606
1585
1455

+130
This week:
Last week:
Week before last week:
6755
10049
10733

-684

All visits
Since module start 471 294

Artikel Kesehatan