Jumat, Mei 25, 2012
   
Text Size

Menguji Kecerdasan Anak

“Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu. Mana yang salah?” tanya seorang bapak pada anaknya beberapa waktu yang lampau. Diberi pertanyaan demikian, sang anak tampak berpikir, lantas berseru menjawab, “Mangga!”

Saat memperhatikan kejadian tersebut, saya tersenyum dan kagum. Sang anak–yang saya perkirakan berusia enam tahun–bisa membuat kesimpulan yang benar dari serangkaian data yang diberikan padanya. Masih dalam kekaguman tersebut, tampak sang bapak kembali memberi pertanyaan lain.

“Mobil, Rumah, Motor, Sepeda, Gerobak. Mana yang salah?”

Lagi-lagi, kali ini tampak hanya dengan sedikit berpikir, sang anak menjawab dengan mudah, “Rumah!"

Setelah beberapa pertanyaan lain diberikan pada sang anak dan dia dapat menjawabnya dengan benar, sang bapak tampak bangga padanya. Sang bapak bercerita bahwa anaknya tersebut sudah bisa ‘ini dan itu’. Banyak hal yang dia ceritakan. Pertanyaan-pertanyaan tadi, yang ia berikan pada anaknya, adalah salah satu cara untuk melihat dan sedikit menguji kecerdasan anaknya. Begitu katanya

Puas mendengar cerita ‘ini-itu’ dari sang bapak, saya pun iseng menanyai sang anak

“Untuk pertanyaan tadi, yang tentang: Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Mangga, dan Ungu; kenapa kamu memilih jawab Mangga?” tanya saya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

Tujuan saya bertanya begitu adalah untuk mengetahui proses berpikir sang anak, serta untuk mengetahui alasannya mengapa dia bisa menjawab seperti tadi. Saat memberi pertanyaan, saya berharap sang anak akan menjawab bahwa alasan dia memilih kata “Mangga” adalah karena “Mangga” bukanlah nama sebuah warna melainkan adalah nama buah-buahan. Tapi apa iya alasannya begitu?

“Ya… karena biasanya setelah Merah, Jingga, Kuning, Hijau, dan  biru adalah Nila, bukan Mangga!”

Mendengar jawabannya begitu, saya langsung terkekeh. Ternyata  alasan yang dikatakannya berbeda dengan dugaan saya. Rupanya dia hafal dengan urutan warna-warni pelangi. :D Begitupula untuk pertanyaan kedua tadi: dia menjawab “Rumah” alasannya bukan karena “Rumah” adalah bukan jenis kendaraan, melainkan karena rumah tidak memiliki roda.

Saya sungguh kagum dengan alasan-alasan yang dikemukakan sang anak: Lucu dan cerdas! Apa yang dipikirkan oleh saya ternyata tak terpikirkan oleh anak-anak, begitupula sebaliknya.  Karena itu keisengan saya pun makin terusik, saya ingin menanyainya tentang matematika. :mrgreen:

“Lia kelas berapa?” begitulah saya mulai bertanya pada sang anak–bernama Lia (tentu bukan nama  sebenarnya).

“Kelas satu!”

“Boleh enggak saya nanya!”

“Apa?”

“Di sekolah belajar matematikanya sampai mana?”

“Jumlah-jumlahan dan pengurangan.”

Mendengar hal tersebut, saya pun berpikir, memilih-milih bilangan untuk saya jadikan pertanyaan.

“Mmm… berapa hasil dari dua dikurang tiga?” tanya saya. Saya tahu anak SD kelas 1 belum mengenal bilangan negatif, namun saya iseng bertanya begitu. Sekedar ingin tahu bagaimana jawaban seorang siswa yang belum mengenal bilangan negatif.

Ditanya hal tersebut, sang anak mengacungkan jari-jari kedua tangannya. Di tangan kanan dia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah: menunjukkan angka dua. Di tangan kirinya dia mengacungkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis: menunjukkan angka tiga. Dia tampak berpikir, mulutnya komat-kamit melakukan perhitungan. Kemudian menjawab.

“Ya, kalau dua dikurang tiga, ya ga bisa doong!” begitu jawabnya sambil menunjukkan jari-jarinya.Tapi dia terlihat ragu.

Mendengar jawab tersebut, tak diminta, senyum saya pun tersungging, terasa geli bagi pikiran saya. Lantas  saya mengatakan padanya bahwa sebetulnya bisa dijawab. Dan sang anak makin bingung tampaknya. Kemudian tanpa malu-malu dia berkata.

“Ya berarti kalau begitu dua dikurang tiga adalah satu!” katanya dengan penuh percaya diri, sambil tersenyum lebar.

Saya makin tersenyum. Mulanya akan memberi tahu bahwa dua dikurang tiga yang benar hasilnya adalah negatif satu. Tetapi, saya tidak melakukannya. Saya memilih untuk membiarkannya: biarkan dia tahu dengan sendirinya, biarkan dia tahu berdasarkan apa-apa yang dipelajarinya di sekolah, biarkan dia berpikir sesuai taraf berpikirnya saat itu, biar kan dia berkembang apa adanya.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 214 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
602
1585
1455

+130
This week:
Last week:
Week before last week:
6751
10049
10733

-684

All visits
Since module start 471 290

Artikel Kesehatan