Jumat, Mei 25, 2012
   
Text Size

Rumah Pengasingan Bung Karno di Kota Ende

Berkunjung ke kota Ende ada baiknya anda mendatangi rumah tempat pengasingan Bung Karno di kota ini. Dan itu yang kami walaupun rumah pengasingan Bung karno di kota Ende tidak masuk dalam catatan perjalanan, kami memutuskan untuk mengunjunginya. Kebetulan sopir travel yang mengantar kami, dia tinggal di area sekitar rumah itu. Jadi cukup tahu dengan penjaganya. Saat itu waktu menjelang pukul 4 sore, dan itu berarti rumah itu akan tutup jam berkunjungnya. Dia segera memanggil sang penjaga untuk meminta diperpanjang sedikit waktu tutupnya.

Rumah tua peninggalan jaman belanda itu masih nampak rapi dan bersih, itu yang kami lihat saat tiba disana. Tidak seperti sebuah rumah pengasingan, malah seperti rumah - rumah jaman belanda pada umumnya. Mengisi buku tamu dan memberikan donasi itu yang kami lakukan pertama kali. Rumah ini seperti rumah tinggal, bukan seperti rumah pengasingan. Karena dalam bayangan saya, rumah pengasingan pasti akan dipenuhi dengan jendela - jendela jeruji layaknya sebuah penjara. Sepertinya Belanda memberikan pelayanan yang berbeda bagi tahanan - tahanan politik yang diasingkan, berbeda dengan tahanan kriminal pada masa itu.

Di dalam rumah ini terpajang beberapa barang - barang peninggalan Bung Karno yang tersimpan rapi dalam lemari kaca. Ada beberapa foto yang memotret kehidupan sang proklamator selama di Ende. Seperti, foto yang memotret Bung Karno bersama penduduk lokal disebuah sungai, Bung Karno di depan sebuah gedung pertunjukkan, dan beberapa foto Bung Karno dengan tahanan politik lainnya.

Sepertinya sang proklamator kita cukup dekat dengan masyarakat Ende kala diasingkan. Dia membuat beberapa naskah pertunjukkan yang dimainkan oleh pemuda - pemudi saat itu. Memberikan pendidikan politik dan membangkitkan rasa nasionalisme, tidak harus dengan ceramah dan orasi politik. Tapi bisa dilakukan melalui drama - drama pertunjukkan, dan itu yang telah dilakukan oleh beliau. Ini membuktikan bahwa dia bisa menyatu dengan rakyat dengan caranya.

Di bagian belakang dari rumah yang dibangun di jaman kolonial itu terdapat sebuah ruang. Ruang kecil ini digunakan sebagai ruang semedi, karena itu yang tertulis di papan atas pintu ruangan ini. Tapi saya meyakini, semedi beliau bukanlah untuk hal - hal yang bersifat mistik. Semedi beliau untuk berdoa dan berkontemplasi kepada Sang Pencipta demi pencapaian kemerdekaan Indonesia. Dan itu terbukti pada tahun 1945, Indonesia merdeka.

Mengunjungi rumah ini, membuat saya mengetahui tentang jejak langkah Sang Proklamator selama pengasingan di Ende.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 214 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
554
1585
1455

+130
This week:
Last week:
Week before last week:
6703
10049
10733

-684

All visits
Since module start 471 242

Artikel Kesehatan