Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Belajar Membaca dan Menulis

Hasil tes awal kemampuan membaca anak SD-MI kelas I menunjukkan bahwa pada umumnya siswa yang pernah masuk TK kemampuan membacanya lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak dari TK.

Hal tsb antara lain disebabkan karena kesiapan belajar membaca mereka (pengenalan huruf dan sosialisasi antar anak) lebih baik daripada mereka yang tidak dari TK.

Selain itu, pada umumnya anak yang masuk TK berasal dari keluarga yang tinggal di perkotaan dan secara sosial ekonomi lebih mampu .

Selain faktor latar belakang pengalaman belajar, para peneliti menemukan bahwa siswa yang diajar membaca dengan menggunakan metode mengeja, kemampuan membacanya pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan yang belajar menggunakan metode lain.

Dalam tes membaca untuk kelas I banyak anak yang terlalu sibuk mengeja dan menyuarakan huruf huruf, sehingga tidak memahami makna kata.

Mereka juga mengalami kesulitan terutama untuk mengeja/membaca kata kata yang menggunakan konsonan/vokal rangkap (bendera, mengganggu, kerbau).

Kesibukan mengeja menghambat kemampuan mereka untuk memahami kalimat/cerita yang dibacanya. Akibat selanjutnya adalah siswa mengalami kesulitan menjawab pertanyaan mengenai isi cerita.

Di berbagai negara, belajar membaca dengan mengeja sudah lama ditinggalkan karena banyak kelemahannya. Kalau guru mengajarkan anak mengeja sesuai dengan bunyi abjad i… b …u sebenarnya banyak anak yang menjadi bingung, mengapa dibaca "Ibu" bukan "ibeu", begitu pula kalau diajarkannya dengan bunyi "i" "eb" "u" mengapa menjadi "ibu" bukan "iebu".

Tingkat kesulitan bagi siswa lebih tinggi lagi untuk kata kata seperti "menyanyi", "belanja" "belajaannya" dst. Akibat dari berbagai kesulitan tsb , kecepatan membaca dan pemahaman siswa sangat rendah.

Menurut hasil penelitian di beberapa negara, kebiasaan mengeja tadi bisa terbawa sampai dewasa. Pengenalan huruf memang perlu, tetapi penekanan pada mengeja lebih banyak merugikan.

Bagaimana sebaiknya? Bagi anak-anak TK dan kelas awal, kegiatan menggambar, bercerita, membaca, dan menulis sebaiknya merupakan kegiatan terpadu.

Belajar membaca permulaan, sebaiknya dilakukan melalui gambar-gambar dengan kata-kata sederhana (meja, topi kuda).

Anak sebaiknya belajar membaca kata-kata secara utuh yang bermakna bukan huruf demi huruf. Setelah dapat membaca secara utuh, anak belajar membaca suku kata, dan kalau perlu huruf huruf, bukan dibalik, belajar huruf dulu.

Kemampuan anak untuk mengekspresikan diri (lisan maupun tertulis) dapat dikembangkan melalui pengalaman nyata siswa, yang diungkapkan melalui kegiatan menggambar dan bercerita dengan menggunakan kata-kata dari anak itu sendiri. Kalau anak belum dapat menulis, guru membantu menuliskan apa yang diceritakan siswa.

Dengan kata lain, belajar membaca dan menulis permulaan paling bagus dikembangkan dalam konteks dan menggunakan kata kata siswa sendiri, bukan melalui kata-kata lepas atau kalimat yang dibuat guru atau mengutip dari buku.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 82 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
333
1585
1455

+130
This week:
Last week:
Week before last week:
6482
10049
10733

-684

All visits
Since module start 471 021

Artikel Kesehatan