Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Sikap Elegan Menyikapi Playboy Indonesia

Hiruk-pikuk sudah, pro-kontra menyikapi rencana terbitnya majalah cetak Playboy versi Indonesia menyeruak. Konon, kalau versi cetak bisa beredar, Playboy versi program televisi akan menyusul. Kekentalan kalangan masyarakat yang kontra telah bereskalasi di zona gagasan “akan memakai segala cara menggagalkan Playboy.

Pepatah kepala boleh panas, tapi hati mesti dingin, rasanya pas untuk situasi seperti ini. Melihat itu, kami beranggapan cara cerdas-argumentatif lebih cocok dibanding jalan otot-komunalistik. Maksudnya, bukan era lagi sikap menentang diungkapkan dengan kekerasan fisik, atas nama apapun.

Sebenarnya, menyikapi masalah apapun tidak dibenarkan dilakukan melalui kekerasan. Masih ada cara yang katakanlah lebih intelek dalam menyikapi bakal terbitnya majalah Playboy.  Sebaiknya, kita mengendalikan diri dan menempatkan majalah Playboy sebagai tantangan hidup bersama. Mau mengarungi keberagaman selera dan pandangan. Bila Anda tak setuju kehadiran majalah Playboy, demikian pula sikap kami, silakan protes via media massa hingga parlemen. Galang seruan tolak Playboy kepada keluarga, kerabat, mahasiswa, profesional sekerja, kawan sehobi, dan lainnya.

Boikot majalah Playboy dan mendesak agar dibuat aturan distribusi (membatasi lokasi peredaran dan menyeleksi usia pembeli, misalnya) adalah pilihan elegen dan lebih bermartabat, ketimbang menenteng pedang. Mengapa?

Karena sebenarnya majalah Playboy hanya segelintir anggota batalion majalah buka tubuh kaum dewasa yang selama ini telah beredar bebas. Majalah buka tubuh kaum dewasa bisa ditemukan di banyak tempat, terutama pada mereka yang menjual media massa cetak (majalah, koran, tabloid). Poster-poster setengah telanjang pun dijual di berbagai tempat. Kenapa selama ini kita tak pernah resah-gelisah, lantas heboh melawan?Ambivalensi sikap itu bisa menjadi catatan kelam. Anak cucu menilai tak konsistennya sikap kita. Terkesan ada “tebang-pilih”.

Kian malu kita bila oplah penerbitan itu melejit selangit. Itulah tanda, sikap terbelah; malu-marah, tapi mau baca. Lihat saja nanti.Jadi, melawan Playboy tidak perlu dengan senjata parang. Itu tadi, misalnya, cukup atur ruang edar dan kekang uang Anda untuk tidak membelinya. Kalau kita bisa bersikap demikian, niscaya modal media lisensi seharga Rp 1 miliar itu menguap dan gulung tikar. Rasanya, sulit. Tapi itulah “harga bersama” kita, yang hidup bersama berpilar dan berlangit demokrasi yang menitahkan menyelesaikan problema secara damai dan melembaga.

Akankah, bersama kita bisa? Mudah-mudahan.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 171 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
833
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5397
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 936

Artikel Kesehatan