Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Memintaku Sebagai Madu

Setelah melengkapi laporan yang telah di revisi Ajeng mendudukkan pantatnya dengan keras diatas sofa ruang tamu kantor. Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi pekerjaan belum usai karena sore ini masih rapat pimpinan. Ajeng adalah sekretaris pak Mufti kepala divisi marketing di perusahaan minuman isotonik.

“Ajeng, data perekrutan distributor untuk Sumatera barat di mana,” cetus Pak Mufti sambil melongokkan kepalanya ke ruang tamu. “Siap boss, sebentar,” ujar ajeng seraya berlari kecarah meja kerjanya. “Sekalian data Sumatera Selatan ya,” teriak Pak Mufti.

Setelah menyerahkan seluruh data yang diminta Pak Mufti, Ajeng terduduk lelah, namun sedetik kemudian telepon mejanya berdering nyaring. “Ajeng, bapak masih di kantor ya, tolong ingatkan untuk makan malam dan minum obat kolesterolnya,” sebuah suara lembut diseberang.

“Iya bu, bapak masih di kantor, ada rapat pimpinan. Nanti saya ingatkan Bapak untuk minum obatnya,” jawab Ajeng seraya tersenyum menerima telepon dari istri Pak Mufti.
“Ajeng, nanti kamu pulang sama saya ya, sekalian ada beberapa hal yang harus kamu lakukan untuk besok pagi. Oh ya besok siang saya kan ke Palembang, tiket dan hotel udah bereskan?” Berondong Pak Mufti begitu keluar dari ruang rapat.

Di jalan, Pak Mufti memberi beberapa briefing penting untuk tugas besok pagi. Ajeng diminta menghubungi seluruh distributor terpilih seluruh provinsi untuk rapat di kantor pusat minggu depan. Sepanjang jalan itu Ajeng hanya menyalin perintah-perintah Pak Mufti sehingga saat mobil berhenti di suatu restoran ajeng tergagap.
“Kok berhenti disini Pak?”.

“Lapar Jeng, makan dulu ya,” terang Pak Mufti. Mereka memilih restaurant di kawasan Citiwalk Jakarta Pusat.
“ Pindah tempat yuk Jeng, kita minum wine dulu. Ada wine lounge tuh,” tunjuk pak Mufti usai makan.

Pak Lutfi memilih wine merah yang bermerek Alexis dari seri Chiras. “Merk ini tak terlalu mahal, tapi saya cocok rasanya. Coba Jeng,” kata Pak Mufti sambil menuang wine ke gelas Ajeng.  Setelah menikmati wine beberapa teguk Pak Mufti dan Ajeng mulai rileks dan terlibat pembicaraan lebih pribadi.

“Jam sepuluh Pak, pulang yuk,” kata Ajeng mengingatkan.  Secara beriringan Ajeng pulang diantar oleh Pak Mufti.

Kejadian makan malam dan minum wine menjadi kebiasaan setiap minggu antara Pak Mufti dan Ajeng. Hubungan keduanya yang dahulu hanya terbatas pada pekerjaan sekarang mulai mencair dan rileks. Beberapa kali Pak Mufti mengingatkan Ajeng untuk memanggilnya Abang saja.

“Jangan dipanggil bapak dong Jeng, abang atau mas aja lebih enak di kuping,” pinta Pak Mufti ke Ajeng. Jadi sejak itu Ajeng memanggilnya Abang Mufti.

Hubungan yang semakin dekat antara kepala divisi dan sekretarisnya mulai menjadi gosip di kantor, apalagi Ajeng nampak lebih sering berdandan dibanding sebelumnya. Ajeng juga rajin menyiapkan makan dan minum Pak Mufti, dia berusaha agar Pak Mufti tak terlambat makan. Ajeng mengurus Pak Mufti layaknya seorang istri karena Ajeng beberapa kali membawakan masakannya untuk Pak Mufti. Tentu saja Pak Mufti menikmati pelayanan spesial dari Ajeng.

Yang uniknya, setiap kali Pak Mufti bepergian keluar kota Ajeng selalu mendapat oleh-oleh yang sama persis dengan oleh-oleh yang diberikan Pak Mufti kepada istrinya. Ajeng juga menikmati perhatian Pak Mufti yang berlebih itu. Ajeng mulai tak perduli dengan nasehat teman-temannya bahwa Pak Mufti adalah atasannya, bukan pacarnya.

“Ajeng, lagi apa? Bapak lagi ke Ambon kan, kita makan siang yuk,” bujuk seorang perempuan di seberang telpon. “Ajeng menyambut gembira ajakan tersebut. “Iya Bu, siang ini kan. Bu Mufti jemput saya atau saya yang  jemput Ibu,” tanya Ajeng Riang.

Tepat jam 12.30 sebuah sedan berwarna silver memasuki pekarangan parkir kantor. Ajeng berlari dan membuka pintu di sebelah supir. “Tumben nyetir sendiri Bu,” sapa Ajeng. “ Iya, Supir enggak masuk kerja hari ini, katanya sakit kepalanya kambuh,” jawab Bu Mufti  seraya menjejak gas mobil lebih keras agar mobil melaju lebih cepat. Setelah memilih restorant Jepang di wilayah Jalan Senopati, Jakarta, Ajeng dan Bu Mufti duduk berhadap-hadapan.

Mereka berbasa-basi saling menanya kabar dan keluarga. Setelah selesai makan Bu Mufti memegang lembut tangan Ajeng seraya berkata “Ajeng, terima kasih ya telah mengurus bapak dengan sangat baik. Bapak cerita kepada Ibu tentang pekerjaanmu yang tak ada habis-habisnya, Bapak juga cerita jika setiap jumat malam kalian makan malam berdua sambil menikmati wine,” ujar suara itu lembut tak menuduh.

“Maaf bu, saya minta maaf jika hal tersebut menganggu Ibu, tapi bapak yang mengajak saya bu,” gagap Ajeng.
“Tidak apa-apa Ajeng, ibu senang kok mendengar cerita tersebut dari bapak,” lanjut Bu Mufti dengan tenang.
“Ajeng ibu mau minta tolong, bisakah kamu melanjutkan kebiasaan itu sehingga Ajeng merasa nyaman di dekat bapak?” Lanjutnya bersungguh-sungguh.
“Ibu telah memikirkan beratus kali untuk menemuimu dan mengatakan ini, bisa kan Jeng?” Lanjutnya lagi.

Ajeng hanya mengangguk kebingungan melihat permintaan tak lazim ini. “Begini Ajeng, bapak dan ibu sudah menikah selama dua belas tahun namun hingga kini kami tak dikaruniai seorang anak. Kesalahan ada pada ibu karena indung telur ibu tak normal. Kami sudah berusaha mempunyai bayi dengan berbagai cara, mulai dari dokter ahli kandungan, bayi tabung hingga ke alternatif, namun semuanya tak menghasilkan apapun,” urainya.

“Bapak adalah laki satu-satunya di keluarga yang menyandang nama marga, kami menginginkan anak laki-laki untuk penerus marga bapak,” terus terangnya lagi.
“Jika kamu menyukai bapak, ibu tak keberatan kamu dinikahi oleh bapak. Yang penting keturunan keluarga bapak tak boleh berhenti sampai disini. Bapak harus mempunyai keturunan,” kali ini lirih suara Bu Mufti terdengar.

“Saya tak mengerti bu, saya bingung. Saya…saya…,” ragu dan gagap Ajeng menjawab penawaran Bu Mufti.
“Begini Ajeng, saya memperhatikan seluruh cerita bapak tentang perlakuanmu terhadap bapak. Ibu suka dengan apa yang kamu lakukan. Jika kamu mau mendampingi bapak, ibu akan mundur,” mulai terisak Bu Mufti.
“Jangan ibu, jangan….saya tidak mau bersama bapak jika ibu mundur dari bapak,” tegas Ajeng.
“Saya bingung bu, nanti saya pikirkan dahulu,” pinta Ajeng melas.

Seminggu kemudian, minggu berikutnya dan berikutnya pertemuan antara Ajeng dan Bu Mufti makin sering. Bu Mufti makin menuntut agar Ajeng mau menikahi Pak Mufti, namun Ajeng makin bimbang dan tak berani memutuskan hal besar tersebut.

Ibu Ajeng hanya menyerahkan persoalan tersebut ke Ajeng, apalagi setelah Bu Mufti  menemui Ibunya Ajeng, makin jelaslah bahwa keinginan Bu Mutfi benar-benar kuat. Ayah Ajeng memang telah tiada.

Dua bulan kemudian, di sebuah gereja kecil di kawacan Cikini Jakarta Pusat, dilakukan pernikahan antara pak Mufti dan Ajeng. Bu Mufti yang mengatur seluruh pernikahan tersebut. Bu Mufti menyalami seluruh undangan. Teman kantor Pak Mufti dan Ajeng tak tahu harus mengucapkan salam apa kepada Bu Mufti. Selamat berbahagia atau selamat berduka. Setelah pernikahan tersebut Bu Mufti mundur dan meninggalkan Pak Mufti.

Ia berkelana ke Bali, Lombok, Australia, New Zealand serta beberapa negara di Eropa Barat untuk memperdalam Yoga. Kini Bu Mufti mengajar Yoga hanya untuk ekspatriat. Ia mengalah karena cintanya kepada pak Mufti. Ia ingin Pak Mufti berbahagia bersama Ajeng dan mempunyai keturunan

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 170 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
784
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5348
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 887

Artikel Kesehatan