Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Jawaban Untuk Lamaranmu David…

Entah mengapa, aku merasa memasuki ritme hidup yang sangat membosankan. Aku mulai jenuh dengan rumah tanggaku yang aman-aman saja. Aku juga jenuh terhadap semua rutinitas yang kulakukan, bahkan mulai bosan bergaul dengan teman-teman.

Memang, aku perempuan yang senang menyendiri, mempunyai pembawaan tenang dan penyuka segala macam bacaan. Kehidupan karirku juga biasa-biasa saja, menurun tidak, menanjakpun tidak, rata. Hanya, aku sering bepergian guna menjalankan tugas perusahaan.

Besok aku harus berangkat ke Medan untuk mengaudit kantor cabang asuransi dimana aku bekerja sebagai auditor, ini perjalanan rutin yang  yang kerap kulakukan. Aku harus berkeliling ke seluruh provinsi  negeri guna mengaudit cabang kantor perusahaan.

Di Terminal Dua, Bandara Soekarno Hatta, aku sudah duduk di gate menunggu keberangkatan pesawat. Tepat di hadapanku duduk seorang pemuda yang sedang memangku ransel hitam sedang menatap lekat ke arahku. Ia tersenyum, aku pun membalasnya dengan penuh sopan.

Kutaksir pemuda tersebut berumur sekitar 26 tahun, ia mengenakan kemeja putih dan celana jeans berwarna coklat tua. Pemuda tersebut kemudian menyapaku “kemana Bu?”

“Medan,” ujarku singkat. Pemuda tersebut berdiri menghampiriku seraya menyodorkan tangannya untuk berkenalan “David,” katanya singkat.

Ternyata David juga ke Medan, bahkan kami satu pesawat. Dengan sopan David meminta kepada penumpang di sebelahku untuk bertukar tempat agar David dapat duduk di sisiku. Selama perjalanan kami saling berkenalan dan bercerita tentang pekerjaan kami masing-masing. Kami bertukar nomor telepon.

Aku dijemput oleh perwakilan kantor Medan dan langsung bekerja hingga pukul 19.00. Begitu tiba di hotel kurebahkan badanku di kasur spiral empuk sambil melihat telepon selulerku yang memang kupasang silent agar tak menganggu pekerjaan.

Ada lima pesan singkat dari David yang ingin mengajakku makan malam bersama, setelah kutimbang-timbang akhirnya kuterima ajakannya. David menjemputku mengenakan jeans berwarna biru dan kemeja putih. Ia nampak lebih muda dan enerjik.

Ternyata David cukup hapal dengan kota Medan. Aku diajaknya naik becak motor menuju restoran soto medan.

David bercerita bahwa ia adalah seorang wartawan dari media Nasional yang sedang meliput kegiatan politik di Kota Medan. Esoknya kami berjanji makan malam berdua kembali.

Hari itu, David kembali menjemputku dan berkata bahwa di belakang hotel ada restoran padang yang enak, kami hanya memerlukan berjalan kaki selama 10 menit hingga tiba ke restoran tersebut.

Ternyata David benar, lauk yang disajikan adalah masakan Padang campur Medan. David menyantap gulai kepala ikan dengan lahapnya.

Pulangnya, saat kami berjalan, mendadak David menyentuh tanganku dan menggandengnya, aku membiarkan saja, meerasakan sensasi yang berbeda.

Kami saling tak berbicara hingga mencapai lobby hotel. David menanyakan apakah ia boleh ikut masuk ke dalam kamar. Aku menganggukkan kepala.

Entah siapa yang memulai, begitu tiba di kamar kami langsung saling memeluk dan berciuman panas hingga tubuhku diangkatnya dan diletakkan dengan perlahan diatas pembaringan. Dadaku bergejolak hingga aku langsung memeluknya membuatnya terguling di atas tubuhku.

Kami menjadi brutal dan saling mengungkapkan hasrat, keinginan disentuh David makin menggelora. Tak bisa kusembunyikan lagi. Aku ingin disetubuhinya, aku membutuhkan elusannya.  Malam itu David memberiku tiga kali kenikmatan.

Sejak saat itu, kami bagai tak terpisahkan, bahkan setibanya di Jakarta kami selalu rutin bertemu. Perselingkuhan kami makin menjadi-jadi. Bahkan kami mulai menabung bersama guna menyewa apartemen kecil untuk pertemuan-pertemuan kami.

Setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu aku selalu meluangkan waktu sepulang kerja untuk bercengkerama dengan David. Kami saling mencintai dan ingin memiliki satu sama lain.

Aku pernah berfikir, apakah ini sebuah cinta sejati yang baru kutemukan sekarang? Karena hubungan cintaku amat indah.

Seluruh sentuhan David membuat tubuhku menggeliat. Aku menikmati detik-detik bersamanya, kami saling mencurahkan perhatian dan kasih sayang tak berkesudahan.

Hingga suatu hari, di perayaan valentine yang ketiga, tiba-tiba ia menyorongkan sebuah bungkusan mungil berwarna biru. Saat kubuka ternyata sebuah cincin emas putih bermata berlian satu. David melingkarkan cincin tersebut ke jari manisku sembari berkata lirih “darling, maukah menikah denganku?”

Kaget bukan kepalang  mendengar pinangan David. Tentu saja David telah mengetahui bahwa aku telah menikah dan bahkan telah mempunyai seorang anak tunggal dari hasil pernikahanku.

Namun kala itu, kupejamkan mata dan kubisikkan “i love you David, aku akan memikirkannya.” David mengangguk puas dengan jawabanku.

Memang, aku sangat mencintai David, bahkan hampir memujanya. Selama tiga tahun ini kami hampir tak pernah bertengkar. Kami saling mendukung karir masing-masing. Ia juga tak banyak menuntut jika aku tak bisa hadir saat dibutuhkannya. Ia faham bahwa aku seorang istri dan Ibu.

Setelah masak-masak berfikir, akhirnya aku membuat kencan indah dengan David di pulau Bangka.

Kami menyewa sebuah villa di pinggir pantai tersebut, dan aku pun berusaha membuat suasana agar liburan kami menjadi romantis dan tak terlupakan.

Yang biasanya aku selalu mengenakan busana formal dan panjang, kali ini aku memakai celana pendek putih dan kaos bertali di bahu. David terus menerus menatap dan memujiku. Dua hari kami lewatkan libur bersama hingga kami pulang ke Jakarta dengan perasaan sangat indah dan makin mencinta.

Hari ini, tepat seminggu setelah aku pulang berlibur, sebenarnya aku ingin menjawab pinangannya saat kami berdua di Pulau Bangka.

Namun aku tak ingin merusak liburan indah kami. Kutitipkan jawaban untuk david lewat media ini karena aku tak mampu menyatakannya kepada david secara langsung.

David, kamu tahu bahwa aku mencintaimu, kamu juga tahu bahwa tubuhku menginginkanmu. Aku merasa menjadi perempuan yang sempurna berada di sampingmu. Aku hampir tak kuasa menolak pinanganmu.

Namun karena besarnya cintaku padamu maka kutolak pinanganmu. Engkau masih terlalu muda, jalan hidupmu masih panjang dan karirmu terbentang luas di depan.

Justru karena aku mencintaimu maka aku mundur dan akan menghilang dari hidupmu. Aku tak mampu mendampingimu karena usiaku kini 46 tahun sedangkan engkau 26 tahun. Perbedaan usia kita terlalu jauh. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan memahami keputusanku ini. Maafkan aku Vid.

Dari Cinta (nama panggilanmu untukku).

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 169 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
782
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5346
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 885

Artikel Kesehatan