Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Kisah Perangkap tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya, saat membuka sebuah bungukusan. Ada makanan pikirnya? Tapi, dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus didalam rumah!”

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengangkat kepalanya dan berkatanya, “Ya maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”

“Wah, aku menyesal dengan khabar ini,” si kambing menghibur dengan penuh simpati, “Tetapi tak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa-doaku!”

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
“Oh?
sebuah perangkap tikus?
Jadi saya dalam bahaya besar ya?” kata lembu itu sambil ketawa, berleleran liur.

Jadi tikus itu kembali ke rumah, dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.

Malam tiba, dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang menagkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tidak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Si istri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, deman. Dan, sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi, bisa itu sangat jahat, si isteri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk, dan tamu pun tumpah ruah dirumahnya. Ia pun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa, kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi, itu tak cukup, bisa itu tak dapat ditaklukkan. Si isteripun meninggal, dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan, untuk puluhuan pelayat dan peserta selamatan.

Kawan, apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu pikir itu tidak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahwa apabila ada “perangkat tikus” di dalam rumah, seluruh “ladang pertanian” ikut menanggung resikonya.

Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 175 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
782
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5346
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 885

Artikel Kesehatan