Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Semua Tentangmu

Masih tentangmu, perempuan penguasa hatikuYang bermula dari kata kerinduanRisau kupanggul sepanjang usiakuBerakhir dengan jejak kenangan..

Layar televisi di hadapanku tak lagi berpendar. Perutku terlalu kram untuk mencerna apapun yang aku lihat di layar kaca itu. Pikiranku nyalang berlari dari tempatnya. Dan dahiku berpeluh diperkosa kerapuhan.

Baru kemarin aku mengantarnya ke bandara. Burung besi itu merenggutnya dari sisiku untuk selamanya. Kami berdua memang harus berjarak karena kami bekerja di kota yang berbeda. Saat itu aku hanya berdiri kaku menatapnya menghilang di lautan manusia yang berdesak-desakan tanpa sela. Perpisahan kali ini tidak seperti perpisahan sebelum-sebelumnya. Sebelumnya kami selalu berjanji untuk segera bertemu lagi, dengan kesedihan karena harus menghadapi kerinduan di tengah ketidakhadiran. Sekarang hanya ada janji untuk menjaga diri masing-masing.

Perpisahan ini tak terelakkan lagi. Sejak awal kami bersama, aku hanya menghitung hari demi hari hingga perpisahan ini akan tiba. Berusaha menikmati setiap hari kebersamaan. Membungkus dengan indah setiap torehan kenangan yang kami lewati.

* * *Belum pernah aku melihat matanya begitu kosong. Dia seperti ada di alam lain. Aku diam menunggunya untuk berbicara. Kamar remang, lampu kamar kami selalu dipadamkan menjelang kami tidur, hanya ada cahaya dari lampu halaman belakang yang masuk melalui kaca jendela. Tapi cahaya yang minim itu tak menghalangiku memandang raut wajahnya yang terbaring di sampingku, menghadapku.

Punggung tanganku mengelus pipinya lembut. Dia mengerjap seraya mengambil nafas panjang. Aku masih memandang jauh ke dalam matanya. Berusaha menemukan apa yang disembunyikan.

“Aku punya kekasih lain,” katanya lirih.

Hatiku mendadak hampa. “Kekasih lain?” tanyaku sedih, seakan ingin mengkhianati pendengaranku.

“Ya. Dan aku serius dengan dia. Maafkan aku.”

Kami diam. Terbius fikiran masing-masing. Lalu dia menyadari sebutir air mataku menetes dan buru-buru mendekapku dalam pelukannya.

“Sayang, maafkan aku! Maafkan aku! Hanya saja, dari awal kita tau kebersamaan kita tak mungkin berlanjut seperti yang kita inginkan.”

Bahuku berguncang pelan dalam pelukannya.

“Tapi aku mencintaimu,” kataku serak setelah agak menguasai kesedihanku.

“Aku tau sayang. Aku tau. Tapi aku tak bisa terus menerus menyembunyikan ini darimu. Kamu nggak pantas di sakiti.”

“Tapi sekarang aku merasa sakit.”

“Aku harus menikah. Itulah yang diinginkan keluargaku.”

“Apa dia lelaki yang baik?”

“Dia baik. Seperti kamu, hanya saja dalam balutan tubuh laki-laki.”

Dan semalam itu mataku tak mampu memejam, melewati menit-menit terakhirku dalam pelukannya. Merekam halus simfoni nafasnya. Melukis detail wajahnya di kanvas hati. Aku mencintainya. Meski tanpa janji sehidup semati, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat. Sesederhana itu… hanya itu….

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 162 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
653
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5217
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 756

Artikel Kesehatan