Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Astaga! Istriku Gemar Berhutang

Lagi-lagi pria legam dengan postur tinggi besar yang mempunyai bekas garis luka di sepanjang pipi kirinya nampak duduk di atas sadel motornya yang terpakir tepat di pintu rumahku.

Dia betah ber jam-jam duduk di situ padahal waktu menunjukkan pukul 14.00 siang, sedang terik teriknya. Toh pria tersebut tetap santai tak merasakan sengatan matahari. Sudah tiga jam dia berdiam diri di depan pintu rumahku. Menunggu istriku.

Esti, nama istriku. Tentu saja saat aku menikahinya berdasarkan cinta kasih yang besar untuknya. Esti adalah seorang perempuan cantik, sedikit manja dan mempunyai kemauan keras.

Esti kunikahi saat berumur 23 tahun, dulu dia kembang kampus.  Betapa bangganya aku menikahi seorang mahasiswi fakultas sastra inggris yang sangat populer dan menjadi incaran banyak laki-laki. Nyatanya Esti memilihku. Betapa beruntungnya aku sebagai laki-laki.

Kami dikaruniai dua orang buah hati, kebetulan dua-duanya perempuan. Irma si sulung sekarang berusia 16 tahun kelas dua SMU, sedangkan Dini anak kedua kami berumur 13 tahun, kelas dua SMP.

Prestasi kedua anakku cukup membanggakan karena keduanya selalu masuk dalam peringkat lima besar di kelasnya. Sebagai seorang ayah, pastilah aku merasa bahagia dengan rumah tangga ini.

Esti memang gemar bersolek dan penyuka tas serta sepatu mahal, beberapa gaunnya juga dibeli dengan harga lebih dari lima ratus ribu. Dulu saat aku bekerja di perusahaan sekuritas dan mempunyai penghasilan tinggi, sepatu, tas dan baju Esti dengan mudah dapat kubelikan.

Namun karena perusahaan tempat dimana aku bernaung mengalami kerugian besar dan mem-PHK banyak karyawannya termasuk aku, maka aku mulai kesulitan memberi uang untuk kesenangan Esti.

Karena usiaku sendiri sudah empat puluh delapan tahun, agak sulit mencari kerja dengan penghasilan tinggi . Sekarang aku bekerja di Perusahaan Teknologi Informasi dengan gaji setengah yang kuhasilkan dulu.

Kalau dihitung, cukuplah uang gajiku untuk belanja kebutuhan sehari-hari, sekolah anak, transport dan sesekali makan di restoran besar. Untung pesangonku cukup besar, sehingga kudepositokan untuk keperluan anak-anak kuliah kelak.

Awalnya, aku menerima telepon dari Ibu Tantri tetangga kami. Ibu Tantri mencari istriku, kebetulan Esti sedang tak berada di rumah, dan kukatakan hal yang sebenarnya kepada Ibu tantri.

Namun Ibu Tantri tak percaya “kok istri pak Eddy pergi terus, saya sudah telepon berbelas kali pak, tapi selalu tak ada.“

“Memang seperti itu Bu, saya baru tiba dirumah dan istri saya belum datang katanya pergi belanja ke Supermarket,” elakku.

“Begini ya Pak Eddy, saya sudah capek nelpon istri Bapak. Tolong sampaikan saja kapan istri Bapak akan bayar hutangnya kepada saya,” klik telepon ditutup.

Begitu Esti pulang langsung saya tanyakan perihal hutangnya kepada Ibu Tantri. Esti menjawab “halah Pa, Cuma utang satu set gelas itu lho kok diuber-uber kaya hutang semilyar.” Aku meminta Esti untuk melunasinya. Esti mengiyakan.

Sabtu pagi serombongan ibu-ibu datang ke rumahku, saat itu Esti masih ke pasar bersama anak-anak. Ibu-ibu tersebut bermaksud meminta uang arisan yang dipinjam oleh Esti.

Sudah lewat waktu arisan namun uang tersebut belum disetor oleh Esti kepada pemenang arisan. Kebetulan, Esti adalah bendahara arisan RT itu.

Saat Esti tiba kutanyakani perihal tersebut namun Esti mengelak dan mengatakan uangnya sudah dititipkan lewat ibu Titis.

Beberapa hari kemudian, aku nyaris pingsan melihat tagihan kartu kredit yang over limit. Aku memang membekali kartu kredit tambahan untuk istriku, agar saat dia belanja untuk keperluan rumah tak lagi meminta-minta secara mendadak. Apalagi Esti kerap meminta uang belanja tambahan saat aku mau berangkat kerja.

Aku terganggu dan membuatkannya kartu tambahan tersebut. Limit kartu kreditku sepuluh juta rupiah dan tagihan yang tertera sepuluh juta tiga ratus ribu rupiah. Tak percaya aku melihat lembar tagihan dari Bank Permata tersebut.

Benar-benar tak yakin karena kartu kredit tambahan itu baru kuberikan ke Esti sebulan yang lalu. Pasti ada yang keliru, pikirku. Nyatanya, di lembar penagihan tersebut tertera: Departemen Store A Rp 2.200.000. Departemen Store B Rp 1.350.000, Butik C Rp 2.700.000, Optik D Rp 3.300.000 dan sebagainya.

“Gila kamu ya Es, aku dapat tagihan kartu kredit sepuluh juta lebih nih, buat apa saja!?” hardikku setiba dirumah sambil menunjukkan lembar tersebut ke wajahnya.

Esti nampak ketakutan dan mulai menangis “maaf Mas Eddy, aku kangen beli barang-barang bagus seperti yang pernah Mas Eddy belikan dulu, aku beli tas, sepatu, baju dan beberapa keperluan perempuan, Maafkan Esti mas.”

“Sini kartu kreditmu,” teriakku geram.  Sesaat Esti memberikan kartu tersebut dan seketika itu pula kugunting hingga terbelah jadi empat. Benarlah bulan-bulan berikutnya aku harus mencicil hutang tersebut.

Belum sebulan kejadian kartu kredit, Tante Maya adik Ibuku datang kerumah. Kebetulan lagi, Esti sedang mengantar Dini untuk les kumon. Tante Maya datang ke rumah untuk menagih hutang Esti yang berjumlah enam juta.

Terbelalak mataku melihat bukti tanda tangan di kwitansi. Itu memang tanda tangan Esti. Malu dan marah menjadi satu. Buat apa uang sebanyak itu bagi Esti?

Saat Esti pulang marahku menggelegak, kutampar pipinya agar dia kapok berhutang lagi. Seperti biasa Esti menangis dan menghiba-hiba mohon ampunanku. Namanya juga istri, ya sudahlah kumaafkan lagi.

“Selamat siang Pak, Ibu Esti ada?” Sapa seorang perempuan di depan pintu rumahku. “Sedang tidur siang bu, saya suaminya, ada yang bisa saya bantu?”

“Wah, kebetulan sekali pak, saya Bu Endang teman Bu Esti. Langsung saja ya pak, saya mau menagih uang yang dipinjam Ibu Esti. Janjinya hanya sebulan, ini sudah tiga bulan belum dikembalikan. Saya menolong Bu Esti waktu anaknya sakit dan dirawat karena demam berdarah.”

Duh, rasanya terpukul benda keras didadaku, kapan anakku sakit demam berdarah dan dirawat, kapaaaaan……?

“Berapa hutang istri saya bu,” gagapku. “Ini pak, delapan juta untuk biaya rumah sakit anak bapak,”  ujar Bu Endang sembari menyodorkan kwitansi peminjaman oleh istriku.

Plaaak…! Tamparan kerasku mengenai pipi kiri Esti. Kali ini aku sudah kalap dan sangat terpukul dengan kelakuan istriku yang mempunyai hobi berhutang.

Pantas saja, tas jinjingnya keluaran dari merek Paris, sepatunya dari Italy. Bagaimana mungkin aku mampu membeli semua itu dengan gajiku yang hanya enam juta rupiah sebulan. “Ini merk palsu pa,” teriak Esti tak kalah kalapnya.

“Kalau yang asli harganya puluhan juta, ini barang kelas dua pa..,” sengitnya lagi. Jelas aku makin marah, hanya untuk bergaya dengan tas dan sepatu palsu, Esti mampu berbohong kepada Bu Endang bahwa anaknya diopname.

Habis sudah simpanan depositoku untuk melunasi seluruh hutang Esti. Aku tak memberinya uang bulanan lagi, aku hanya memberi uang harian untuk belanja saja. Jika ada keperluan rumah tangga lainnya aku pergi membelinya sendiri di supermarket. Itulah jalan keluar sementara yang kutempuh.

Ternyata Esti tak berhenti di sini, dia kembali berhutang kepada jasa peminjaman uang dengan menggadaikan BPKB mobil satu-satunya milik kami. Aku menyerah dan tak mau lagi berbicara dengannya.

Lelaki legam yang di depan rumah itu kubiarkan menunggu Esti yang tak berani pulang ke rumah karena debt collector mencarinya berhari-hari.

Setiap Esti pulang, kutelpon debt collector agar segera datang karena Esti ada di rumah, hingga Esti tak berani pulang ke rumah lagi. Entah berada di mana dia sekarang.

Untungnya anak-anak tetap di rumah bersamaku. Itulah harta yang akan kupertahankan hingga titik akhir hidupku. Kini gugatan cerai sudah kulayangkan karena tak kuat lagi beristri Esti.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 163 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
653
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5217
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 756

Artikel Kesehatan