Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Warung Nasi Bapakku

Mataku melotot memandangi kesigapan para pembeli di warung nasi bapakku. Mereka yang rata-rata anak kost ini begitu licin mengakali bagaimana makan yang puas dan murah. Tindakan pertama tentu saja nasi di piringnya, dengan menekan-nekan merupakan cara kuno yang sudah lama kuamati. Untuk hal ini aku cuma berkata “Udah berapa hari gak makan, mas?” sindirku tajam. Biasanya mereka cuma mesem-mesem mendengar ucapanku.

Target mereka selanjutnya sayur. Untuk kategori yang murah ini mereka tidak sungkan-sungkan mengambil sebanyak yang mereka ingin. Untuk hal ini mereka tidak takut padaku, mungkin mereka ingin berkata “Tenang aja ku bayar semuanya”. Tapi aku yang kepalang preventif terhadap mereka tetap berkata, “Ingat-ingat yang lain mas, masih banyak yang belum kebagian”.

Yang terakhir tentu saja lauk. Ini yang paling riskan. Kepintaran mereka menyembunyikan lauk di bawah tumpukan nasi dan sayur adalah masalah tersendiri di warung bapakku ini. Plototan mataku biasanya mujarab untuk mencegah kriminalitas mereka. Tidak satu dua kali prilaku ini mendapat teguran dari bapak ibu. Tapi aku tetap cuek saja, toh aku berbuat untuk kebaikan warung nasi bapakku, kok.

“Orang mau makan kok di plototin gitu, nanti orang gak nyaman, loh, Mam”, kata bapakku suatu ketika.

“Jangan serem gitu, toh, Mam, biasa aja kenapa, toh?” ibuku ikut menasehati.

“Kita itu saling membutuhkan, makanya saling menolong. Kita membutuhkan mereka sebagai penyanggah usaha kita. Mereka juga membutuhkan kita untuk mendukung keuangan yang terbatas, gitu loh, nak?”, bapakku berkata di lain waktu.

Dalam pikiranku, bapak ibu sangat lemah, tidak tegas menghadapi prilaku anak kost. Hal itu bisa jadi makanan empuk bagi anak-anak kost yang jahil. Untung ada aku yang dapat mencegah perbuatan anak-anak kost tersebut. Hal itu terus berada dalam pikiranku, hingga suatu saat…

Karena keteledoran dalam mematikan api kompor, akibatnya fatal. Kompor yang meledak menghanguskan warung nasi bapakku. Hingga warung yang menjadi tumpuan hidup kami ini luluh lantak tak tersisa. Dengan tabungan yang tersisa kami hanya bisa membangun warung nasi kembali yang jauh lebih kecil dengan tempat yang kurang strategis, masuk ke gang sempit.

Tapi untunglah anak kost langganan warung nasi bapakku tetap setia makan di tempat kami, walaupun harus berjalan kaki lebih jauh. Berkat pelanggan setia inilah warung nasi kami tetap bertahan, dan bapakku bisa membesarkan lagi warung nasiku seperti yang dulu. Kini sikapku menjadi beda dalam melihat tingkah laku anak kost yang makan di tempat kami.

“Ayo mas, makan yang banyak, biar kuliahnya kuat.” ujarku tersenyum. Mereka cuma mesem-mesem. Benar kata bapak, hubungan warung nasi dan pelanggan kami yang rata-rata anak kost adalah saling membutuhkan.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 161 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
653
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5217
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 755

Artikel Kesehatan