Kamis, Mei 24, 2012
   
Text Size

Tidak Boleh Marah

ENTAH mengapa, saya selalu
merasakan penyesalan yang terlalu, ketika usai melampiaskan kemarahan kepada siapapun. Saya tidak peduli, benar atau tidak, tapi ketika kemarahan itu begitu memuncak, rasanya seperti bukan saya yang berada pada tubuh ini.

Ibarat porselen yang retak, kemarahan itu tidak akan terlupakan meski kita sudah menambalnya dengan lem yang paling pekat dan lengket sekalipun. Jika kita marah dengan seseorang, terkadang sering kali tanpa kita sadari kata – kata yang kita lontarkan itu telah melukai dan menyakiti hati orang lain dan meninggalkan luka didalam hatinya. Dan seberapa banyaknya kita minta maaf, luka itu akan terus membekas di dalam hatinya.

Ada sebuah ilutrasi singkat tentang bagaimana kemarahan itu lebih menimbulkan luka, daripada kelegaan. Kemarahan selalu menimbulkan luka batin yang entah sampai kapan akan terbawa. Mungkin sampai mati. Seorang kawan mengatakan, luka itu akan tersimpan sebagai bank kenangan yang kelak terbawa sampai mati. Artinya apa? Luka itu tak akan pernah kering. Memaafkan mungkin, tapi tak melupakan.

Ada sebuah kisah sederhana yang merepresentasikan tentang kemarahan itu. Begini:
Pada suatu hari ada seorang anak yang mempunyai sifat pemarah, untuk mengurangi kebiasaan buruknya itu sang Ayah memberikan sekantong paku kepada anaknya, sambil berkata kepada anaknya untuk memakukan sebuah paku pada papan kayu pagar dirumahnya tiap kali marah.

Hari pertama anak itu telah memakukan banyak paku ke pagar setiap kali marah dan seiring berjalannya waktu secara bertahap jumlahnyapun berkurang Hingga tibalah hari dimana anak tersebut mulai bisa mengendalikan amarahnya. Dia lalu memberitahukan Ayahnya akan hal itu dan mengusulkan untuk mencabuti paku – paku yang ditancapkannya di pagar rumahnya tiap kali dia bisa menahan marahnya.

Hari – hari berlalu dan anak laki laki itu akhirnya memberitahukan kepada Ayahnya bahwa semua paku telah tercabuti olehnya. Lalu sang Ayah menuntunnya ke pagar bekas lubang paku tersebut dan berkata,

”Nak, Lihatlah lubang – lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, hal ini sama dengan ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata katamu akan meninggalkan bekas seperti lubang ini di dalam hati orang lain. Kamu dapat menusukkan sebuah pisau ke dalam hati seseorang, lalu mencabut pisau itu, tetapi beberapa kali kamu minta maaf. Luka itu tetap akan membekas dan ada didalam hati orang yang
telah kamu lukai hatinya.”

Bila ingin marah, cobalah untuk berpikir dua kali sebelum kamu menyakiti dan menorehkan luka di hati orang lain. Karena kemarahan itu melukai.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 145 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
637
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
5201
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 740

Artikel Kesehatan