Rabu, Mei 23, 2012
   
Text Size

Aku Ditolak Perempuan Malam

Istri menggugat cerai padahal dia yang berselingkuh dengan anak buahku saat aku bekerja di pertambangan. Tentu saja anak-anak ikut ibunya karena keduanya masih balita, apalagi si kecil masih menyusui. Lagi pula tak mungkin membawa anak karena pekerjaanku menuntut keberadaan secara fisik  ditengah hutan sebagai opersional manager pertambangan batu bara di pedalaman Kalimantan Tengah.

Disaat mendengar perselingkuhan mereka, kutanyakan kepada istri apakah benar dia berpacaran dengan anak buahku. Dengan tegas istriku mengiyakan, serta merta meninggalkan rumah tangga kami untuk hidup bersama anak buahku, yang akhirnya kupecat juga.

Hidupku limbung, aku mencari pelarian dengan berbagai cara. Setiap malam ditemani alkohol hingga mabuk berharap terlupakan seluruh sakit hati dan penderitaan akibat di dicerai istri yang pergi bersama anak-anak.

Kini kusadari bahwa aku terlalu keras sebagai seorang suami, setiap marah pasti kutempeleng dia hingga bibirnya berdarah. Beberapa kali pula anak-anak ikut kena sasaran pukulan-pukulanku. kini aku memahami kenapa istriku memilih pria lain. Penyesalan barulah tiba namun semua telah terlambat. Aku ditinggalkan oleh orang-orang yang kucintai.

Kuhabiskan uang gajiku untuk pergi ke club club malam, kukencani puluhan perempuan nakal, sekedar melepaskan kekecewaan. Hingga suatu hari aku mabuk tak sadarkan diri. Aku terjatuh di lantai dansa sebuah diskotik. Saat tersadar, aku sedang dikompres oleh seorang perempuan disebuah rumah sederhana. “ Istirahat saja dulu pak,” seraya menyorongkan segelas teh panas.

“Saya Lastri, bekerja di diskotek G, semalam saya bawa bapak kesini karena tak seorangpun mengenal bapak,” terangnya.

“Mau mie instant pak? Saya tidak masak nasi,” serunya lagi

Sambil menikmati mie instant, kuperhatiakn wajah Lastri. Memang tak cantik, namun entah apa yang membuatku tertarik padanya.

“Lastri,sudah berapa lama bekerja di diskotik G?“ tanyaku.

“Dua tahun pak, dulu jadi waitress sekarang terima tamu pak,” paparnya.

Setelah mengucapkan terima kasih aku berpamitan pulang, dan meminta maaf telah merepotkannya. Kusodorkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan ketangannya. Lastri tertawa dan menolak “tidak usah pak, saya hanya bermaksud menolong.”

Besok malamnya kudatangi lagi diskotik G untuk mencari Lastri, namun dia sedang dibooking orang karena Lastri merangkap kerja sebagai pemandu karaoke juga.

Besoknya kucari Lastri lagi, kali ini Lastri jatah libur. Maka kuberanikan diri menuju rumahnya. Kulihat Lastri sedang mengenakan baju daster sambil berjongkok didepan tv kecil. Lastri sedang mengotak-atik antene tv tersebut. Gambar tv tersebut hilang timbul.

“Sini kubantu,” sambil turut jongkok disebelahnya.

Lastri tersenyum melihat kedatanganku dan bergeser memberiku ruang agar aku dapat berjongkok disisinya.

Sambil membetulkan antene yang sudah bengkok tersebut tiba-tiba mulutku berbicara  “Lastri, kamu tinggal bersamaku saja ya, aku tinggal di rumah sendirian. Aku duda dan anak-anak ikut mantan istri. Aku membutuhkan teman agar tak selalu keluar malam menghabiskan waktu. Aku akan membayarmu sebesar gajimu di diskotik G.”

Lastri terdiam, aku juga terdiam. Kaget sendiri dengan kalimat yang telah keluar dari bibirku.

“Kerja saya apa pak?“ tanya Lastri

“Kamu menemani saya saja, dirumah sudah ada tukang masak kok,” ungkapku

“Mau ya Las,“ pintaku.

“Saya tidur sama bapak?” tanya Lastri polos

“Tidak Lastri, kamu tidur dikamar sendiri. Saya hanya perlu teman yang bisa ngobrol dan bercerita apa saja setelah saya pulang kerja,” jelasku.

Tak dinyana, lastri mengangguk. Aku juga mengangguk senang dengan keputusan Lastri.

Esoknya Lastri sudah pindah kerumahku, dia hanya membawa baju karena Lastri tak memiliki barang. Selesai jam kantor aku segera pulang, kulihat lastri sedang membersihkan kamar yang akan digunakannya. Sejak ada Lastri aku tak pernah lagi ke Diskotik, karaoke, night club atau yang sejenis itu. Aku betah dirumah.

Tiap bulan Lastri kubayar sesuai kesepakatan, namun lastri tak pernah kusentuh. Hingga suatu hari aku terbangun sebelum subuh dan lamat-lamat kudengar suara perempuan mengaji. Kubuka pintu kamarku dan suara mengaji makin keras. “Lastri mengaji”, batinku. Entah mengapa saat itu hatiku tergetar mendengar alunan suara Lastri mengaji.

Lastri yang menyediakan sarapanku setiap pagi, Dia duduk berhadapan denganku. Sambil meyeruput kopi, kukatakan pelan “Lastri, kita menikah saja yuk.  Akhir minggu kita kerumah orang tuamu. Aku akan melamarmu.”

“Terima kasih tawarannya pak, saya tidak ingin menikah dengan Bapak. Saya sedang mengumpulkan uang untuk operasi adik saya. Bibir adik saya sumbing sejak lahir. Langit-langit mulutnya tidak ada.” Begitu jawaban Lastri. Aku nyaris tersedak mendengar jawabannya. Kutelan buru-buru air kopi hingga tandas dan segera berdiri untuk berangkat kerja.

Beberapa minggu kemudian, kuulangi kembali tawaranku sambil menjanjikan bahwa aku akan membiayai operasi adiknya. Kembali Lastri menolak.

Makin lama, aku makin jatuh cinta kepada Lastri.  Tapi Lastri tak menunjukkan balasan yang sama. Lastri masih tetap mengurusku dengan baik, bahkan sesekali memijat kakiku di ruang keluarga, namun Lastri tak memberiku harap untuk cinta yang kubutuhkan.

Tepat tujuh bulan Lastri bersamaku, ia berpamitan akan pulang ke kota asalnya karena uangnya telah cukup untuk biaya operasi adiknya. Aku gemetar dan kecewa karena Lastri menolak tawaranku untuk mengantar hingga kota asalnya. Hingga duduk tersimpuh dihadapan lastri seraya memohon belas kasihnya “Lastri, menikahlah denganku, jadikanlah aku suami yang baik untukmu”.

Lastri terisak, menarik serta memelukku erat. “Jangan pak, saya tidak mau menjadi istri bapak.” Aku terjerembab dalam kekecewaan yang teramat dalam, tiga kali lamaranku ditolak Lastri.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 113 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
226
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
4790
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 329

Artikel Kesehatan