Rabu, Mei 23, 2012
   
Text Size

Sinetron ‘Islam KTP’ memukau dan dikecam Masyarakat Indonesia

SEJAK tayang Juli 2010, sinetron Islam KTP produksi Multivision menuai sukses atas sepak-terjangnya yang nyaris tidak terkontrol. Durasinya pun digeber  menjadi 2 jam. Penonton semakin berkesempatan mendengar serapah dan penistaan sesama lewat tokoh Madid Musawaroh. “Dasar bahlul, kecebong anyut, kismin, rakbal!” (Bahlul, dalam bahasa Arab berarti bodoh). Anehnya, ketika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah mulai menegur sejumlah program, termasuk sinetron Islam KTP, Lembaga Sensor Film (LSF) seolah tak mau tahu.

Di saat tidak adanya sinetron sejenis yang menjadi pesaing, Islam KTP menemukan jalan sukses menaiki tangga rating. Gagasan awal sinetron berlatar etnis Betawi ini, seperti diungkapkan Anjasmara selaku produser pelaksana, untuk menginspirasi umat Islam agar lebih baik dalam menjalankan ibadah.
“Kita Islam tapi minim pengetahuan tentang Islam,” kata Anjasmara, pada jumpa pers peluncuran sinetron Islam KTP yang disutradarai Syaiful Drajad di Kampung Artis Jakarta Timur, Minggu (11/7/2010) silam.

Sinetron yang menghadirkan sosok Madit Musawaroh (diperankan Ramdhani Qubil AJ), Ustad Ali (Idrus Mardani), Mamat (Rezky Aditya), Karyo (Aiman Rizky), dan tokoh anak-anak Tebe (Tubagus Indra), dan lainnya pun berhasil merebut hati penonton.
Salah satu ciri khas sinetron Islam KTP adalah dialog Madid Musawaroh, yang nyaris tidak pernah lepas dari umpatan, sumpah-serapah, dan caci-maki. Atau cara Tebe bersikap pada orang yang lebih tua, yang terkadang ‘mengejutkan’ karena tak sesuai porsi dialog itu untuk ukuran anak-anak umumnya.
Tak urung formula Islam KTP untuk ‘berdakwah’ dikecam banyak penonton, yang merasa jengah mendengarkan celoteh Madid Musawaroh yang berlebihan. “Sebetawi-betawinya orang Betawi, rasanya tidak ada yang se-perti Madid Musawaroh. Itu sangat tidak ber-akhlak dan merusak citra orang Betawi,” kata Anggara (45), warga asli Jakarta yang tinggal di Cipete, Jakarta Selatan.
Keluhan tentang sinetron Islam KTP, terutama soal ‘caci-maki’ Madid Musawaroh juga diungkapkan Alia (36), yang bersuami-kan orang Betawi dan tinggal di Kemayoran. “Orang Betawi tidak seperti itu, saya yang terbiasa blak-blakan juga punya batasan. Apa-lagi, suami saya orang Betawi juga,” kata Alia.
Mendengarkan keluhan yang disampaikan masyarakat melalui website Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), pihak lembaga yang bertugas menjaga siaran televisi nasional itu pun melayangkan surat teguran untuk Islam KTP.

Melalui surat bertanggal 17 Januari 2011 dengan nomor 44/K/KPI/01/11, KPI menegur tertulis yang keduakalinya pada stasiun SCTV selaku penayang program sinetron Islam KTP, karena dianggap melakukan pelanggaran.

Pelanggaran itu disebutkan, pada program “Islam KTP” menayangkan adegan beberapa tokoh yang selalu menghina atau merendahkan tokoh atau kelompok lain. KPI juga menegur Trans 7 atas tayangan Opera Van Java 9 Desember 2010. Teguran resmi tertulis dari KPI tertanggal 10 Januari 2011, dengan surat bernomor 24/K/KPI/01/11.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 117 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
169
1455
1618

-163
This week:
Last week:
Week before last week:
4733
10049
10733

-684

All visits
Since module start 469 272

Artikel Kesehatan