Sabtu, Mei 19, 2012
   
Text Size

Membaca Prilaku Pasar (Forex Market Handicapper)

Sebagian besar pemahaman kita tentang pembacaan pikiran dan emosi berasal dari dua ilmuwan terkenal, yaitu: Paul Ekman dan Friesen. Hasil karya mereka yang fenomenal berhasil merangkum semua kombinasi wajah atau mimik seseorang untuk mengetahui pikiran dan emosi orang tersebut pada saat itu. FACS atau Facial Action Coding System adalah dokumen 500 halaman buah karya dari mereka yang sampai sekarang dipakai untuk pedoman oleh para psikiatri dan animator film kartun holywood. Menurut kabar film animator “Shrek” dan “Toy Story” juga menggunakan pedoman kedua ilmuwan ini dalam membuat mimik karakter aktornya.

Seperti halnya kedua ilmuwan itu bisa menguraikan pikiran dan emosi para manusia dari mimiknya. Terdorong keingintahuan saya terhadap perilaku spekulan pasar mata-uang dunia. Sampai akhirnya timbul pertanyaan di benak saya: “Apakah mungkin kita dapat membaca prilaku spekulan pasar mata-uang tersebut?” dan “Bagaimana atau pedoman apa yang dipakai oleh para trader tersebut mengetahui prilaku pasar ?”

Instrumen Untuk Membaca Perilaku Pasar Dari Pergerakan Harga

Teori difergensi dan konfergensi

Ini adalah salah-satu instrumen favorit saya, karena tingkat akurasinya yang bagus. Biasanya saya gabungkan dengan grafik Candle-Stick. Difergence adalah suatu keadaan dimana pergerakan harga pasar yang ditunjukkan oleh grafik pergerakan harga, tidak sama dengan yang ditunjukkan dengan indikator matematis. Sedangkan konfergensi adalah kebalikan dari teori difergensi, yaitu: jika pergerakan harga sama dengan hasil dari perhitungan matematis. Saya biasa memanfaatkan teknik konfergensi ini untuk mengetahui kapan pasar akan bergerak naik. Dan difergensi untuk mengetahui kapan pasar akan bergerak turun. (Osillator/Indicator yang tersedia adalah MACD = Moving Average Difergence-Confergence, ditemukan oleh Gerald Appel.)

Teknik membaca candle-stick

Teknik ini diciptakan oleh seorang pengusaha beras Jepang pada tahun 1700-an di era penguasa Ieyasu Tokogawa, dialah Munehisa Homma. Mulanya hanya digunakan untuk memprediksi harga beras pada masanya dan masa yang akan datang dengan menggunakan harga-harga yang sudah lalu. Istilah dalam candlestick yang terkenal: Doji Star, Drop down, Three Black Crow, Triangle, dll.

Teknik swing

Banyak sekali para praktisi yang telah menciptakan sendiri teknik ini dengan cara melihat perilaku pasar dari pergerakan harganya. Ambilah contoh ketika indikator matematis atau sebuah canddle-stick telah menunjukkan signal pergerakan naik atau turun, biasanya para trader membuat suatu analisa sendiri berdasarkan perilaku dari pergerakan harga itu, mereka cenderung untuk mengambil posisi di atas atau di bawah harga yang ditunjukkan oleh signal indikator tadi, dengan alasan kemungkinan harga akan bergerak anomali. Sering para trader menempatkan posisi harga jual atau belinya dengan cara ini, katakanlah indikator jual/beli menunjukan di harga N, maka untuk mengantisipasi pergerakan harga yang anomali para trader mensiasati dengan meletakkan posisi harga jual/belinya dengan cara: N+1 (untuk jual atau sedikit lebih tinggi) dan N-1 (untuk harga beli atau sedikit lebih rendah.)

Kenapa masih banyak the losser daripada the winner-nya?

Dari hasil penelitian didapatkan fakta: “Dari 100% trader hanya 1% adalah the winner, sisanya 99% adalah the losser !!” Kenapa bisa terjadi demikian? Padahal mereka sudah ahli dalam membaca arah dan pergerakan pasar dengan benar! Dan bahkan seorang trader sekelas George Soros mengakui bahwa lebih menggunakan intuisi dalam bermain di pasar mata-uang-dunia ini, ketimbang menggunakan kemampuan analisisnya.1

Saya mendapati variabel baru yang sangat membuat saya tercengang. Variabel ini sangat mempengaruhi prilaku para trader tersebut untuk bertransaksi di pasar uang dunia. Sebut saja “pola psikologi para trader (trader-psychology.)” Saya tidak mengira bahwa variabel inilah yang menjadi pemicu yang sangat mematikan bagi para trader saat ini. Saya pernah melihat dan mendengar keluh-kesah dari para trader dan seorang teman yang juga pelaku pasar mata uang tersebut, selalu mengalami kekalahan. Artinya ketika ia menang satu kali, yang kedua, ketiga dan selanjutnya adalah kerugian atau kekalahan.

Ada satu pendapat dari para senior bahwa jadilah seorang investor pintar ketimbang anda menjadi seorang spekulator. Seorang Investor pintar adalah: “Seorang yang dapat meminimalisir kerugian yang tak dapat di perbaiki; Meningkatkan peluang yang berpotensi meraih keuntungan yang berkelanjutan; Dan, memperbaiki tingkah laku yang merusak diri mereka sehingga mengurangi peluang untuk meraih keuntungan yang berkelanjutan.” 2

Mari kita lihat apakah anda seorang jenis investor atau spekulator?

Saya sering menanyakan pertanyaan ini kepada seorang trader yang akan bermain di pasar valas: “Apakah anda sudah siap kehilangan keseluruhan dari modal yang anda investasikan di pasar ini?” Dan hampir 99% jawaban mereka “Yah kalau bisa jangan kalah lah Pak..” ; “Hehehe.. yah semua masa ada sih yang mau rugi !! Saya kan cuma ingin tahu anda seorang investor atau spekulator !” Jadi artinya 99% dari para pelaku pasar yang hendak meraih keuntungan di pasar uang ini adalah jenis pemilik modal yang ingin bermain di area yang aman. Celakanya di pasar mata-uang tidak ada area itu !!

Harga bergerak dalam hitungan detik naik-turun tidak beraturan dan dapat membuat jantung berdebar-debar, badan panas-dingin, dan mata terus melotot melihat grafik harga yang makin lama bergerak makin aneh. Inilah yang saya sebut psychology-war yang tengah berkecamuk di dalam benak para pelaku pasar baik itu para trader maupun pemilik modal. Dan tidak sedikit dari mereka yang salah mengambil keputusan untuk menahan atau membuang posisi transaksi mereka dengan keadaan yang merugi alias loss.

Bagaimana cara mengatasi Psychology-war di benak kita ?

Saya mengacu pada cara berpikir seorang investor pintar di atas, yaitu meminimalisir kerugian. Caranya dengan membagi modal investasi kita menjadi bagian-bagian yang porsinya akan kita tentukan sesuai dengan tingkat resikonya. Tingkat resiko tertinggi akan mendapatkan porsi paling kecil untuk investasi. Katakanlah: kalau kita punya modal 100% maka cukup 4% yang anda investasikan di pasar mata uang (High Risk). 60% untuk modal yang pasti menguntungkan (Low Risk). Sisanya adalah untuk cadangan (Reserved) bilamana anda ingin melakukan investasi di bidang lain, seperti perbankan dan lainnya. Dengan asumsi modal tersebut adalah modal yang bebas yang tidak digunakan untuk kepentingan bulanan.

Semua ini saya dasarkan pada riset yang saya lakukan. Saya melakukan dengan menggunakan demo-account dan saya praktekkan segala teknik yang telah saya pelajari. Hasilnya cukup mengejutkan saya dari modal 5000 US$ berubah menjadi 15000 US$ dalam waktu 4 bulan.3 Tapi hal itu lain jika saya terapkan dengan real-account. Dari riset kecil-kecilan tersebut saya ambil satu variabel baru, yang saya sebut: “trader-psychology.” Variabel inilah sebenarnya yang menentukan apakah seorang trader atau penanam modal tersebut dapat mengalami kerugian atau mengambil keuntungan di pasar mata-uang.

Kenapa dalam demo-account, anda dapat berpeluang besar meraih keuntungan ?

Tentu saja pertanyaan semacam ini selalu berkecamuk di benak para trader. Dulunya saya juga sangat penasaran untuk menemukan jawaban tersebut. Dan saya baru bisa menyimpulkan ketika saya mencoba langsung dengan demo-account. Dalam demo-account kita tidak terbebani dengan beban psikologi (nothing to loose). Kita dapat enak saja memposisikan transaksi jual/beli kita (tentunya sesudah mempertimbangan analisa teknikal dan fundamentalnya) tanpa memikirkan bagaimana jika posisi transaksi kita tadi mengalami floating-price (istilah dalam pasar harga, jika harga tersebut mengalami fluktuasi, karena satu dan lain sebab.) Seringkali mereka salah mengambil keputusan karena posisi jual/beli mengalami fluktuasi yang tidak bisa ditolerir lagi untuk dipertahankan (hold position.)

Yang menjadi pertanyaan baru sekarang adalah: “Bagaimana kita dapat membangun psikologi perdagangan di real-account, seperti layaknya kita lakukan di dalam demo-account ?” (Tentunya untuk mencari keuntungan maksimal tanpa terganggu dengan beban psy-war di dalam benak kita sendiri.)

Kalau anda lihat formula pembagian modal investasi di atas hanya 4% dari keseluruhan modal untuk di-investasikan ke dalam high-risk investment (pasar uang/pasar modal) dan 60% untuk investasi low-risk investment. Hal tersebut dengan tujuan untuk mengurangi resiko kerugian yang besar. Jika anda merugi di sektor investasi yang satu tentunya di sektor lain akan menutup kerugian tersebut dengan porsi yang lebih besar. Tentunya ini akan berpengaruh pada psikologi anda sebagai psikologi pemenang (the winner) bukannya pecundang (the loser.)

Taruhlah sekarang kita investasikan modal kita 100% (atau dalamnjadi seorang pecundang (the los porsi yang lebih besar) ke dalam high risk investment, ketika terjadi kerugian maka tingkat kerugian kita akan terasa lebih besar tanpa ada bentuk investasi lain yang dapat menutup kerugian tersebut. Hal ini akan terus membagun dalam benak kita meer) dan akan memicu tingkat emosional yang akan membawa kita ke jurang kerugian yang semakin dalam. Seperti yang kita lihat membangun dan menjaga psikologi “sebagai pemenang” sangat dibutuhkan dalam berinvestasi di pasar uang (high risk investment sector) jika kita ingin tetap bertahan lebih lama dan meraih keuntungan yang maksimal.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 124 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
1331
1404
1395

+9
This week:
Last week:
Week before last week:
8582
10733
10999

-266

All visits
Since module start 463 072

Artikel Kesehatan