Sabtu, Mei 19, 2012
   
Text Size

PNM Bukukan Kenaikan Laba Bersih 242 Persen

Laba bersih PT Permodalan Nasional Mandiri (PNM) tahun 2001 mencapai Rp 48 milyar, naik 242 persen dibanding tahun 2000 yang baru mencapai Rp 14 milyar. Keuntungan Rp 48 milyar tersebut murni dari hasil perputaran dana bagi hasil usaha-usaha mikro.Hal itu dikemukakan Presiden Direktur PNM BS Kusmuljono kepada Kompas seusai menandatangani naskah kerja sama dengan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) di Wisma Mas Isman, di Jakarta, Rabu (10/4). Kerja sama itu meliputi pemberian modal untuk meningkatkan kemampuan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi anggota Kosgoro.

Dari keuntungan tersebut, PNM memberikan dividen kepada pemerintah sebesar Rp 7 milyar pada tahun 2000 dan Rp 24 milyar pada tahun 2001. Keuntungan tahun 2001, diperoleh dari penyaluran pinjaman kepada lembaga keuangan mikro seperti koperasi, BPR, BPR Syariah, Lembaga Perkreditan Desa, dan Baitul Maal Watamwil (BMT) yaitu lembaga keuangan yang didirikan masyarakat di sekitar masjid yang berawal dari dana zakat. Lebih dari 60 persen nasabah yang meminjam dana dari lembaga keuangan mikro ini memilih kredit harian, baik pinjaman yang dicicil per hari, ataupun sistem pinjam pagi dikembalikan sore hari.

Tingkat kemacetan kredit ini rendah sekali, bahkan hampir tidak ada karena setiap hari langsung dilunasi. Hal itu merupakan ciri khas usaha di tingkat mikro, yaitu pada pagi hari mengambil bahan baku untuk kemudian langsung dijual. Berbeda dari jenis usaha yang harus melakukan proses bahan baku menjadi produk lanjutan yang umumnya memerlukan waktu lebih dari sebulan.

Hal tersebut berlainan dengan bank yang berurusan dengan bunga bulanan. Secara harian, uang beserta bunga yang mereka kembalikan kecil dan tidak terasa. Namun, jika diperhitungkan bulanan apalagi tahunan, jumlahnya menjadi sangat besar.

Kusmuljono mengakui, marjin keuntungan yang diperoleh para nasabah memang kecil, sehingga tidak memadai untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar. "Tetapi, justru nasabahnya menginginkan begitu. Penghasilan mereka satu hari, di luar dugaan kita, cukup, bahkan memenuhi semua biaya yang dikeluarkan," katanya.

Dari seluruh nasabah yang mendapat pinjaman dana dari PNM, sekitar 60 persen adalah pedagang penyalur hasil pertanian dan kelautan, yang hampir semuanya memilih sistem harian. Sesampai di kota atau desa yang lebih besar, para debitor harian itu ada yang memproses bahan baku tersebut menjadi makanan atau untuk kebutuhan restoran, sehingga menciptakan lapangan kerja. Sekitar 20 sampai 30 persen nasabahnya adalah pengusaha yang bergerak di bidang pengolahan, dan 10 persen lagi pengusaha ekspor.

Menurut Kusmuljono, PNM berusaha membantu pengusaha kecil tersebut untuk melakukan proses hasil bumi menjadi produk olahan sehingga memberi nilai tambah. "Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan sudah enam bulan ini kita membantu masyarakat setempat mengolah batok kelapa menjadi karbon untuk bahan baku produk industri kimia," katanya.

Lebih jauh dijelaskan, mengurus kredit usaha mikro sangat berlainan dari perbankan yang tidak setiap hari mendampingi nasabahnya. "Kami melalui lembaga mikro, tiap hari bukan hanya membantu, tapi juga mendidik. Karena PNM juga punya jasa manajemen bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat," katanya.

Sebagian besar nasabah dari lembaga-lembaga keuangan mikro yang bekerja sama dengan PNM ini berada di desa-desa dan kota-kota kecil. Namun demikian, lembaga permodalan yang baru berumur tiga tahun tersebut, saat ini telah memiliki aset berupa dana berputar yang mencapai Rp 1,5 trilyun. Lebih dari 700 lembaga keuangan mikro telah mendapat bantuan modal dari PNM, dengan jumlah nasabah sekitar 1,5 juta orang.

Padahal, dari modal sebesar Rp 1,2 trilyun yang rencananya diberikan pemerintah, baru direalisasikan Rp 300 milyar. Ia berharap, rencana pemberian modal Rp 1,2 trilyun dari pemerintah sejak tiga tahun lalu, segera direalisasikan. "Melihat perkembangan dari modal Rp 300 milyar tersebut, kalau diberikan lagi modal Rp 1,2 trilyun, maka perputaran aset bisa mencapai 10 trilyun. Sebab, daya serap masyarakat bisa dikatakan tidak terbatas. Di daerah, dalam konteks usaha kecil, krisis tidak berpengaruh karena tidak ada pinjaman luar negeri, tidak ada utang dalam dollar, dan bahan baku 100 persen dari dalam negeri," katanya.

Artikel Peluang Usaha

Pengunjung Online

Ada 124 tamu online

Data Pengunjung

Visits [+/-]
Today:
Yesterday:
Day before yesterday:
1307
1404
1395

+9
This week:
Last week:
Week before last week:
8558
10733
10999

-266

All visits
Since module start 463 048

Artikel Kesehatan